Menjaga kesehatan saluran pernapasan merupakan hal penting, terutama ketika kualitas udara menurun akibat asap kebakaran hutan dan lahan. Paparan asap dapat mengganggu saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, khususnya pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit tertentu. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengenali Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), memahami gejalanya, serta mengetahui cara mencegah dan menanganinya dengan tepat.
1. Apa Itu ISPA?
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung, tenggorokan, hingga saluran pernapasan bagian bawah, termasuk paru-paru. ISPA dapat berlangsung selama beberapa hari hingga sekitar dua minggu, bergantung pada penyebab dan kondisi kesehatan seseorang.
ISPA dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, terutama virus, tetapi sebagian kasus juga disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini dapat menimbulkan gejala ringan, seperti pilek dan batuk, hingga kondisi yang lebih serius, seperti pneumonia atau radang paru-paru.
Perlu diketahui bahwa ISPA akibat infeksi berbeda dengan iritasi saluran pernapasan akibat asap. Asap kebakaran hutan tidak secara langsung menyebabkan infeksi virus atau bakteri, tetapi partikel halus dan zat berbahaya di dalamnya dapat mengiritasi saluran pernapasan, memicu batuk dan sesak napas, serta memperburuk penyakit pernapasan yang sudah ada.
Keduanya dapat menimbulkan keluhan yang serupa. Karena itu, gejala yang muncul perlu diperhatikan agar penanganannya sesuai dengan penyebabnya.
2. Apa Hubungan Asap Kebakaran Hutan dengan Gangguan Pernapasan?
Asap kebakaran hutan dan lahan mengandung campuran gas serta partikel kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup. Partikel halus, termasuk PM2.5, berukuran sangat kecil sehingga dapat menembus jauh ke dalam paru-paru.
Paparan asap dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, batuk, mata perih, hingga sesak napas. Pada orang yang memiliki asma atau penyakit paru-paru dan jantung, paparan tersebut dapat memperburuk kondisi kesehatannya.
Risiko gangguan kesehatan meningkat ketika seseorang terpapar asap dalam konsentrasi tinggi, berada di lingkungan berasap dalam waktu lama, atau melakukan aktivitas berat di luar ruangan.
Oleh karena itu, ketika terjadi kebakaran hutan atau kualitas udara memburuk, masyarakat dianjurkan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai, dan menjaga kualitas udara di dalam rumah.
3. Kenali Gejala ISPA Sejak Dini
Gejala ISPA dapat berbeda-beda, tergantung pada penyebab, usia, dan kondisi kesehatan seseorang. Beberapa gejala yang umum ditemukan meliputi:
- Demam: Suhu tubuh meningkat sebagai respons tubuh terhadap infeksi.
- Batuk: Dapat berupa batuk kering maupun batuk berdahak.
- Pilek dan hidung tersumbat: Hidung mengeluarkan lendir atau terasa sulit bernapas melalui hidung.
- Sakit tenggorokan: Tenggorokan terasa nyeri, gatal, atau tidak nyaman saat menelan.
- Tubuh terasa lemas: Aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit dilakukan karena tubuh terasa tidak bertenaga.
- Nafsu makan menurun: Penderita mungkin tidak berselera makan, terutama ketika disertai demam.
- Napas berbunyi atau terasa berat: Dapat menjadi tanda adanya gangguan pada saluran pernapasan.
- Sesak napas: Penderita merasa sulit mendapatkan udara atau bernapas lebih cepat dari biasanya.
Pada anak-anak, gejala juga dapat berupa rewel, sulit menyusu atau makan, muntah, dan tampak lebih lemah dari biasanya.
Sementara itu, paparan asap kebakaran dapat menimbulkan keluhan berupa mata perih, hidung dan tenggorokan terasa teriritasi, batuk, serta sesak napas, meskipun tidak selalu disertai demam.
Segera cari pertolongan medis apabila muncul sesak napas berat, bibir atau wajah membiru, penurunan kesadaran, atau anak tampak sangat lemas dan sulit dibangunkan. Jangan menunda pertolongan jika terdapat tanda kegawatan.
4. Apa Saja Penyebab ISPA?
ISPA dapat disebabkan oleh beberapa jenis virus dan bakteri. Virus merupakan penyebab yang umum ditemukan, antara lain:
- Rhinovirus (RhV), salah satu penyebab utama pilek atau selesma.
- Respiratory Syncytial Virus (RSV), yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan, terutama pada bayi, anak kecil, dan lansia.
- Virus influenza, penyebab penyakit flu yang dapat menimbulkan demam, batuk, nyeri otot, dan rasa lemas.
- Virus parainfluenza, yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan, termasuk croup pada anak.
- Coronavirus, kelompok virus yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pernapasan.
- Human metapneumovirus (hMPV), yang dapat menimbulkan gejala menyerupai flu dan pada sebagian orang berkembang menjadi infeksi yang lebih berat.
- Adenovirus, enterovirus, dan bocavirus manusia, yang juga dapat menyebabkan berbagai gangguan pernapasan.
Selain virus, bakteri tertentu dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan dan komplikasi seperti pneumonia.
Penting untuk diingat bahwa tidak semua batuk, pilek, atau sesak napas disebabkan oleh infeksi. Iritasi akibat asap, alergi, asma, dan gangguan kesehatan lainnya juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan apabila gejala berat, menetap, atau semakin memburuk.
5. Faktor Risiko ISPA dan Gangguan Pernapasan
Risiko seseorang mengalami ISPA atau gangguan pernapasan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan.
a. Faktor penyebab penyakit
Virus dan bakteri dapat masuk ke tubuh melalui percikan pernapasan, kontak dengan tangan atau permukaan yang terkontaminasi, serta jalur penularan lain sesuai jenis kuman.
Sementara itu, asap kebakaran, debu, dan polusi udara dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperburuk kondisi paru-paru.
b. Faktor individu
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan atau komplikasi, antara lain:
- Bayi dan anak-anak, karena sistem kekebalan tubuh dan saluran pernapasannya masih berkembang.
- Lansia, karena daya tahan tubuh dan fungsi organ dapat mengalami penurunan.
- Ibu hamil, yang perlu lebih berhati-hati terhadap infeksi dan paparan polusi udara.
- Orang dengan asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit jantung, atau kondisi kronis lainnya.
- Orang dengan daya tahan tubuh rendah atau status gizi yang kurang baik.
- Orang yang belum mendapatkan imunisasi yang dianjurkan, sesuai usia dan kondisi kesehatannya.
Status imunisasi, kecukupan gizi, riwayat kesehatan, dan kondisi tubuh dapat memengaruhi risiko seseorang mengalami penyakit atau komplikasi.
c. Faktor lingkungan
Lingkungan juga berperan penting dalam meningkatkan risiko ISPA dan gangguan pernapasan, misalnya:
- Paparan asap kebakaran hutan dan lahan.
- Polusi udara dari kendaraan, industri, dan pembakaran sampah.
- Asap rokok di dalam rumah.
- Ventilasi rumah yang kurang baik.
- Kepadatan hunian dan kontak dekat dengan orang yang sedang sakit.
- Kebersihan tangan dan lingkungan yang kurang terjaga.
Menjaga lingkungan tetap bersih, mengurangi paparan asap, dan menerapkan kebiasaan hidup sehat merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan pernapasan.
6. Cara Mencegah ISPA dan Melindungi Diri dari Asap Kebakaran
Pencegahan ISPA perlu dilakukan melalui kebiasaan hidup sehat dan upaya mengurangi paparan penyebab gangguan pernapasan. Terlebih saat kualitas udara memburuk, masyarakat perlu lebih waspada dan mengambil langkah perlindungan.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
1. Gunakan masker saat diperlukan
Gunakan masker yang sesuai ketika berada di lingkungan berpolusi atau berasap. Masker respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Masker medis biasa tidak memberikan perlindungan yang setara terhadap partikel asap yang sangat kecil.
2. Kurangi aktivitas di luar ruangan
Saat terjadi kebakaran hutan atau kualitas udara tidak sehat, batasi kegiatan di luar rumah, terutama olahraga atau aktivitas fisik berat. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis perlu lebih berhati-hati.
3. Jaga kualitas udara di dalam rumah
Tutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke lingkungan tempat tinggal. Jika tersedia, gunakan alat pembersih udara dengan filter HEPA. Hindari aktivitas yang menghasilkan asap di dalam rumah, seperti merokok, membakar sampah, atau menggunakan obat nyamuk bakar.
4. Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Biasakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah batuk atau bersin. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dibersihkan.
5. Terapkan etika batuk dan bersin
Tutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau siku bagian dalam ketika batuk dan bersin. Buang tisu bekas ke tempat sampah dan segera cuci tangan. Jika sedang sakit, hindari kontak dekat dengan orang lain untuk mengurangi risiko penularan.
6. Konsumsi makanan bergizi dan cukup istirahat
Konsumsi makanan dengan gizi seimbang, perbanyak buah dan sayuran, minum air yang cukup, serta tidur sesuai kebutuhan. Kebiasaan ini membantu menjaga fungsi tubuh dan mendukung sistem kekebalan tubuh.
7. Hindari asap rokok dan sumber polusi lainnya
Asap rokok dapat mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya pada anak-anak. Hindari merokok di dalam rumah maupun di dekat anggota keluarga.
8. Lengkapi imunisasi sesuai anjuran
Vaksinasi influenza dapat membantu mengurangi risiko influenza dan komplikasinya. Vaksin lain, seperti vaksin pneumokokus, juga dapat dianjurkan bagi kelompok tertentu sesuai usia dan kondisi kesehatan.
Perlu diingat bahwa vaksin tidak mencegah seluruh penyebab ISPA, tetapi dapat melindungi dari penyakit tertentu yang dapat menimbulkan komplikasi serius.
7. Bagaimana Penanganan ISPA yang Tepat?
Penanganan ISPA disesuaikan dengan penyebab, tingkat keparahan gejala, usia, dan kondisi kesehatan penderita. Sebagian besar infeksi saluran pernapasan akibat virus dapat membaik dengan perawatan di rumah, tetapi beberapa kondisi membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan.
a. Istirahat yang cukup
Berikan tubuh waktu untuk pulih dengan beristirahat dan menghindari aktivitas yang terlalu berat. Jika sedang sakit, sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah agar pemulihan lebih optimal dan risiko penularan berkurang.
b. Penuhi kebutuhan cairan
Minum air putih yang cukup untuk membantu mencegah dehidrasi, terutama ketika mengalami demam. Untuk bayi, pemberian ASI tetap dianjurkan sesuai kebutuhan dan kemampuan menyusu.
c. Gunakan obat sesuai kebutuhan
Obat untuk meredakan demam, nyeri, atau batuk dapat digunakan sesuai gejala, usia, dan petunjuk tenaga kesehatan. Jangan memberikan obat sembarangan kepada anak, terutama bayi.
d. Jangan menggunakan antibiotik tanpa resep
Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi bakteri tertentu, bukan infeksi virus. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistansi antibiotik, sehingga bakteri menjadi lebih sulit diobati.
Apabila dokter mencurigai infeksi bakteri atau komplikasi seperti pneumonia, dokter akan menentukan apakah antibiotik diperlukan.
e. Hindari paparan asap selama pemulihan
Jika keluhan pernapasan muncul setelah terpapar asap kebakaran, segera menjauh dari sumber asap dan pindah ke tempat dengan udara yang lebih bersih. Hindari aktivitas berat dan perhatikan apakah keluhan membaik.
Jika batuk, mengi, atau sesak napas menetap maupun semakin berat, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
f. Segera ke rumah sakit jika muncul tanda bahaya
Jangan menunda pemeriksaan apabila mengalami sesak napas, napas sangat cepat, nyeri dada, bibir membiru, kebingungan, atau penurunan kesadaran. Pada anak, tanda bahaya juga meliputi kesulitan menyusu, tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas, dan kondisi sangat lemah.
Pasien dengan gangguan pernapasan berat mungkin memerlukan oksigen, pemantauan ketat, atau perawatan di rumah sakit sesuai hasil pemeriksaan.
8. Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Segera konsultasikan kondisi kesehatan apabila batuk dan demam tidak membaik, gejala semakin berat, muncul napas berbunyi, atau keluhan pernapasan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Orang yang memiliki asma, penyakit paru-paru, penyakit jantung, atau daya tahan tubuh rendah sebaiknya lebih cepat mencari pertolongan jika mengalami keluhan setelah terpapar asap.
Jangan menunggu hingga sesak napas menjadi berat. Pemeriksaan sejak dini membantu tenaga kesehatan menentukan penyebab keluhan dan memberikan penanganan yang sesuai.
Kesimpulan
ISPA merupakan infeksi saluran pernapasan yang dapat disebabkan oleh berbagai virus maupun bakteri. Sementara itu, asap kebakaran hutan dan polusi udara dapat menimbulkan iritasi saluran pernapasan serta memperburuk penyakit yang sudah ada.
Meskipun keduanya dapat menimbulkan gejala serupa, ISPA akibat infeksi dan gangguan pernapasan akibat asap tidak selalu memiliki penyebab maupun penanganan yang sama.
Oleh karena itu, masyarakat perlu menerapkan PHBS, menjaga daya tahan tubuh, melengkapi imunisasi sesuai anjuran, menghindari asap rokok, serta membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Jangan abaikan batuk, demam, atau sesak napas yang semakin berat. Kenali gejalanya, lakukan pencegahan, dan segera cari pertolongan medis apabila muncul tanda bahaya.
RSUD Al-Mulk Kota Sukabumi mengimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga kesehatan saluran pernapasan dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan kesehatan. Untuk kondisi kegawatdaruratan, Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Al-Mulk siap memberikan pelayanan selama 24 jam.
Sumber:
https://www.alodokter.com/ispa diakses tanggal 23 Oktober 2026
https://ayosehat.kemkes.go.id/mengenali-gejala-ispa-dan-tindakan-yang-perlu-dilakukan diakses tanggal 23 Oktober 2026
Informasi Layanan RSUD Al Mulk
wa.me/ 0858-6434-4464
Jl. Pelabuhan II No.KM 6, Lembursitu, Kec. Lembursitu, Kota Sukabumi, Jawa Barat
Social Media Kami
Tiktok :rsud_almulk
Facebook : RSUD Al Mulk
Instagram : almulkrsud
Youtube : HUMAS RSAM
PKRS RSAM
writer